CIREBON MEMAHAMI DUNIA

Oleh: Achmad Nashir Budiman, Yayasan Cakrabuana, Cirebon

Guru marketing dunia, Philip Kottler, menulis buku The Marketing of Nation. Ia menulis bukan bagaimana “menjual” suatu bangsa sebagaimana dilansir Amien Rais tentang adanya petinggi negara yang selalu membuat kontrak karya yang merugikan negara dan bangsa. Melainkan bagaimana kemampuan suatu bangsa menjadi keunggulan kompetitif.

Maaf, selama ini kita selalu bangga dengan banyaknya jumlah penduduk dan sumberdaya alam yang berlimpah. Inilah cara-pikir pendekatan keunggulan komparatif. Tetapi coba buka jendela. Jepang atau Singapura yang tidak memiliki sumberdaya alam berlimpah kini menjadi bangsa kelas dunia. Bahkan India yang padat penduduk miskin juga sudah jadi kiblat superpower. Mengapa demikian? Karena negara-negara tersebut menggunakan keunggulan kompetitif.

Pendekatan keunggulan komparatif dan kompetitif dari Michael Porter dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa krisis kehidupan (ekonomi, politik, dan budaya) di Indonesia tak kunjung usai. Dengan tingkat daya beli rendah tentu tidak menarik bagi investor manapun untuk menanamkan modalnya. Karena produk yang dihasilkann tidak akan ada yang membeli. Lihat saja, di tengah hausnya kita akan investasi, justru beberapa perusahaan perakitan mobil hengkang ke manca negara.

Investasi, pada hakekatnya adalah memotong rantai distribusi, sehingga harga jual dapatr bersaing. Lihat saja Toyota yang mampu menjadi perusahaan yang paling banyak menjual produknya. Berapa biaya yang harus dikeluarkan —dan juga harga jual— jika akan memasarkan seluruh mobilnya dalam kondisi terpasang-utuh (completely built up, CBU). Tetapi karena Kijang, permintaan pasarnya sangat banyak maka akan ekonomis jika diproduksi di Indonesia. Untuk jenis yang pasarnya sedikit maka masih ekonomis jika diimpor. Inilah hukum bisnis, selalu mencari jalan untuk mencari untung lebih baik.

Keunggulan kompetitif tidak harus dimulai dengan sesuatu yang “wah” yang tak terjangkau akal dan pikiran. Apa menariknya sejumput kentang goreng (french fries) dan ayam goreng yang dicocol saus tomat dan sambal. Semula hanya dikenal sebagai sarapan para sopir truk. Tetapi jika kemudian kudapan padat lemak dan biasa disebut junk-food (makanan sampah) dikemas dalam bingkai nilai “kelas dunia” bernama McDonald, maka menjadi lain. Berapa besar bisnis McD di seluruh dunia?

Untuk mencapai kelas McD memang tak ada jalan yang mudah. Untuk mutu seragam di seluruh dunia McD melakukan riset yang mendalam. Agar kentang gorengnya renyah dan tidak gosong, mereka kembangkan jenis atlantis yang rendah kadar gula. Agar tampil menarik, minyak goreng tidak boleh mengandung pro-kolesterol tinggi. Agar tidak diduga karsinogenik (menyebabkan kanker) penggorengan harus pada suhu tertentu, dan minyak goreng hanya boleh dipakai beberapa kali saja.

Sementara, untuk pewaralabaan (franchising) didirikanlah McD University. Disana mereka bukan kuliah dengan cara SKS, melainkan diajar bagaimana membersihkan WC, kamar mandi, bagaimana melayani konsumen, dan lain-lain. Pencitraan juga dilakukan dengan cara seksama. Mulai dari iklan sampai dengan kemasan CSR (Corporate Social Resonsibility), tanggungjawab sosial perusahaan.

Cirebon juga memiliki produk kelas dunia. Kursi rotan dan bola dari Majalengka. Tak ada pelosok dunia yang tidak pernah terisi kursi rotan buatan Cirebon. Dan Sepakbola Piala Dunia pernah diramaikan gelindingan bola made-in Majalengka. Belajar dari McD, kegiatan penelitian dan pengembangan serta pendidikan dan pelatihan apa yang pernah kita lakukan untuk meningkatkan keunggulan kompetitif? Bisakah rotan Cirebon sekelas IKEA (produsen furniture dunia)? Itulah sejumlah pe-er kita hari ini. Tomorrow may be too late, kata lagu tahun 1970-an.****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s